Tampilkan postingan dengan label Gangguan Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gangguan Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 06 November 2012
Penyebab Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi (DE) atau dulu disebut impotensi dianggap sebagai momok yang menakutkan bagi kaum pria. Kenali apa saja yang bisa menyebabkan Mr.P mendadak loyo. Ada beberapa bentuk disfungsi seksual pada kaum pria, termasuk hilangnya libido dan gangguan ejakulasi. Namun, DE secara spesifik mengacu pada ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi. Pria yang menderita DE biasanya punya dorongan libido, tetapi organ vitalnya gagal merespons.
Berikut adalah beberapa penyebab Mr.P menjadi loyo.
- Penyakit kronis
Penyakit kronis yang paling erat kaitannya dengan DE adalah diabetes. Hampir separuh pasien diabetes mengalami kesulitan mencapai ereksi. Penyakit lain yang juga bisa memicu DE adalah penyakit jantung, pengerasan pembuluh darah, penyakit ginjal, dan multipel sklerosis.
- Gaya hidup
Gaya hidup yang merusak sirkulasi darah bisa menyebabkan terjadinya DE, misalnya saja merokok, kecanduan alkohol, serta penggunaan narkoba. Kegemukan dan kurang berolahraga juga meningkatkan risiko impotensi.
- Operasi
Tindakan operasi, termasuk terapi untuk kanker prostat, kanker kandung kemih sering kali juga merusak saraf dan pembuluh darah di sekitar penis. Pada beberapa kasus, kerusakan itu bersifat permanen.
- Obat-obatan
Beberapa jenis obat juga menyebabkan efek samping DE, misalnya, obat antidepresi dan tekanan darah tinggi. Konsultasikan kepada dokter jika obat yang diresepkan menyebabkan Anda kesulitan ereksi.
- Psikologi
Pada pria yang mulai paruh baya, umumnya gangguan ereksi yang dialaminya dipicu oleh masalah psikologis. Para pakar menyebutkan stres, depresi, rendahnya rasa percaya diri, dan kecemasan juga dapat menyebabkan ereksi.
- Bersepeda
Meski masih diperdebatkan, sebagian ahli mengatakan hobi para pria mengayuh sepeda bisa memicu gangguan ereksi. Beberapa atlet pesepeda diketahui banyak menderita DE. Penyebabnya ialah karena bentuk tempat duduk sepeda menekan perineum, area antara anus dan skrotum, yang mengandung saraf serta pembuluh darah vital untuk terjadinya rangsangan seksual.
Sumber : WebMD
Senin, 05 November 2012
Bahaya Menjemur Pakaian di Dalam Rumah
Di musim penghujan seperti sekarang tentu sulit mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan pakaian. Namun, menjemur pakaian di dalam ruangan sebenarnya tidak dianjurkan karena bisa memicu penyakit asma. Penelitian yang dilakukan tim dari Mackintosh School of Architecture di Glasgow, Skotlandia, menemukan bahwa menjemur pakaian di dalam ruangan akan meningkatkan kelembaban udara sampai 30 persen.
Berdasarkan survei terhadap 100 rumah yang mereka lakukan, hampir tiga perempat rumah memiliki tingkat kelembaban yang bisa memicu pertumbuhan kuman dan tungau. Kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko asma dan penyakit alergi lainnya. Survei tersebut dilakukan pada musim dingin tahun 2011 dan menemukan sekitar 87 persen rumah tangga menjemur pakaian di dalam rumah dan dua pertiga menjemur di dekat sumber panas seperti radiator.
Para peneliti mengatakan bahwa model arsitektur yang tertutup rapat untuk meminimalkan pengeluaran energi sering kali tidak diikuti dengan ventilasi yang baik. Akibatnya, uap air sulit untuk menghilang. Menurut Malcolm Richardson, profesor bidang studi jamur dari Universitas Manchester, Inggris, ada berbagai tipe kapang, tetapi hanya 10 jenis yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan, seperti sinusitis, bronkitis, alergi, dan gangguan pernapasan lainnya.
Kapang adalah jenis jamur yang tumbuh di tempat di mana kelembaban terperangkap di udara, misalnya di kamar mandi, tempat cuci piring, mesin cuci, mesin pengering, dan di dapur. Bisa juga ditemukan di tanah dalam pot tanaman. Setiap genangan air juga bisa memicu tumbuhnya jamur. Jika pertumbuhannya cepat, jamur bisa terlihat dalam hitungan bulan sampai tahunan. Rumah yang tidak memiliki ventilasi yang baik juga menjadi tempat favorit jamur.
"Tempat yang jadi favorit jamur untuk tumbuh di rumah adalah wallpaper, lantai, serta di balik lantai dan di sekitar jendela," kata Richardson. Menghirup udara yang memiliki spora jamur bisa mendatangkan dua efek, yaitu infeksi pada orang yang memiliki sistem imun lemah serta reaksi alergi terutama asma. Gejala-gejala alergi jamur bisa berupa batuk, rasa lelah berkepanjangan, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala, iritasi kulit, ataupun rasa mual.
Sumber : Dailymail
Selasa, 10 Juli 2012
Berita Negatif Dapat Memicu Stres
Stres bukan hanya muncul karena kita sedang ada masalah pribadi atau dikejar deadline di kantor. Membaca atau menonton berita-berita negatif di media massa ternyata juga bisa menyebabkan stres. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLos One dan melibatkan 60 orang menyebutkan, pengaruh berita negatif di media massa lebih nyata pada kaum wanita dibandingkan dengan pria.
Padahal, berita-berita negatif telah menjadi "makanan" sehari-hari di media kita. Berita mengenai pembunuhan, perampokan, krisis ekonomi, hingga konflik dan peperangan mendapatkan porsi yang lebih besar di media dibanding berita positif.
"Memang berita di media saja tidak cukup meningkatkan level stres, tetapi membaca berita tersebut akan membuat wanita lebih reaktif dan memengaruhi respons psikologi mereka pada situasi stres berikutnya," kata Marie-France Marin dari Universitas Montreal, yang melakukan penelitian ini.
Para wanita dinilai secara alami lebih mampu mengenali ancaman pada anak-anak mereka sehingga berpengaruh pada cara mereka merespons stres. Apalagi, para wanita juga memang lebih reaktif pada stres dibanding pria. Sayangnya, agak sulit menghindar sama sekali dari paparan berita negatif. Yang bisa kita lakukan mungkin mencoba menggali sisi positif dari berita yang kita baca. Sisihkan waktu untuk rileks, menikmati hobi atau aktivitas yang disukai. (news.bbc.co.uk)
Minggu, 08 Juli 2012
Bahaya Facebook dan Twitter Bagi Kesehatan
Apakah anda pernah mendengar tentang penyakit Obsessive Compulsive Disorder (OCD)? Mungkin sebagian besar diantara kita masih banyak yang belum tahu tentang penyakit yang satu ini. OCD merupakan penyakit yang menyerang mental yang ditandai dengan ciri-ciri sering memikirkan sesuatu hal berulang-ulang dan melakukan perbuatan secara berulang-ulang.
Contohnya adalah seseorang yang kerap berpikir untuk mematikan kompor gas di rumah, padahal sebenarnya dia sudah mematikannya. Bisa juga pada kebiasaan seseorang yang selalu mencuci tangannya berkali-kali dan tetap merasa kotor.
Kondisi OCD juga dialami oleh orang-orang terkenal seperti Wayne Rooney, Katy Perry, Megan Fox, Justin Timberlake, Jessica Alba, Paul Gascoigne, dan Charlize Theron.
Katy Perry mengaku perilaku OCD-nya sering timbul ketika ia sedang melakukan tur konser. "Saya akan panik saat melihat ada alat make up yang rusak di tas kosmetik. Tapi paling menakutkan bagi saya jika ada kacamata dengan noda bekas jari di kacanya," katanya.
Sementara itu Megan Fox mengatakan ia tidak bisa makan di restoran menggunakan sendok garpu perak. "Saya langsung merasa jijik karena mengetahui ada ratusan orang yang mungkin sudah memakai sendok itu. Bayangkan ada berapa bakteri di sendok itu," ujarnya.
Menurut Dr. Pam Spurr, pakar perilaku, situs jejaring sosial seperti misalnya Facebook dan Twitter ternyata bisa membuat seseorang terkena penyakit yang tergolong gangguan kejiwaan ini. Kebiasaan atau rutinitas yang sering bermain Facebook walaupun hanya sekedar melihat, mengecek, atau memperbaharui status bisa membuat perasaan Anda cemas dan ingin terus melakukannya.
Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, maka otak Anda akan merasa selalu terdorong untuk melakukan hal tersebut, yang pada akhirnya akan mempengaruhi mental dan kebiasaan hidup Anda sehari-hari.
Pam Spurr mengungkapkan, cara untuk mencegah OCD adalah dengan menenangkan pikiran, mengubah pola pikir dan gaya hidupnya.
Tapi sayangnya, situs jaringan sosial termasuk Facebook dan Twitter justru berdampak sebaliknya bagi pikiran manusia, bahkan bisa menciptakan kecemasan lebih besar.
Pam menambahkan, seseorang yang cara berpikirnya lebih tenang umumnya bisa mengatasi persoalan ini. Untuk melindungi diri dari kemungkinan terserang penyakit ini, Pam menyarankan hendaknya setiap orang membatasi jumlah waktu mereka untuk bermain facebook. (thesun.co.uk)
Sabtu, 30 Juni 2012
Obat Terbaik Untuk Gangguan Cemas
Saya mengikuti berbagai macam forum di Facebook ataupun Kaskus. Banyak juga di antara pembaca artikel saya di Kompasiana atau blog pribadi saya bertanya kepada saya lewat email ataupun posting komentar. Pertanyaan mereka biasanya berkisar tentang apakah mereka menderita gangguan kecemasan yang banyak rupanya itu.
Untuk pertanyaan seperti ini, biasanya saya agak sulit memberikan jawaban karena tidak memeriksa langsung pasien. Biasanya saya hanya memberikan penjelasan sedikit tentang kemungkinan diagnosis yang dialami oleh penanya dengan dilatarbelakangi keluhan-keluhan yang ada. Namun ketika saya ditanyakan masalah obat apa yang paling cocok untuk gangguan kecemasan, maka tulisan di bawah ini mungkin bisa menjawab pertanyaan para pasien selama ini.
A. Psikofarmaka
Perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran khususnya di bidang pengobatan telah melahirkan obat-obatan terbaru di bidang ini. Khusus untuk gangguan kejiwaan, tahun 1990an sampai sekarang kelihatan tampak pesat sekali perkembangan obat-obatan gangguan kejiwaan terutama gangguan kecemasan. Beberapa penelitian berbasiskan bukti telah dilakukan oleh peneliti di dalam maupun di luar negeri. Berbagai macam ras dan warna kulit telah mengikuti penelitian ini, hasilnya adalah suatu penilitian-penelitian yang berbasis bukti yang bisa diaplikasikan dalam praktek sehari-hari karena telah mengikuti metode yang tepat dan aman.
Obat-obatan seperti antidepresan golongan SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitor) belakangan dinilai dari berbagai penelitian sebagai obat yang tepat untuk mengatasi berbagai gangguan kecemasan. Sifat obat yang mampu banyak diterima berbagai golongan usia dan ras membuat obat ini menjadi pilihan utama pengobatan gangguan kecemasan. Dahulu sebelum obat ini ditemukan, pengobatan dengan obat golongan anticemas Benzodiazepine adalah pilihan utama. Obat seperti Alprazolam (yang dijual dengan berbagai macam merk) adalah salah satunya.
Namun dengan perkembangan waktu dan semakin banyaknya kasus-kasus ketergantungan dan toleransi obat ini maka belakangan penggunaannya diwaspadai dan tidak digunakan secara tunggal sebagai obat gangguan cemas yang membutuhkan pengobatan jangka waktu lama. Pengobatan pasien gangguan kecemasan dengan antidepresan SSRI juga membutuhkan waktu. Berbagai literatur barat mengatakan waktu antara 12-18 bulan pengobatan agar meminimalkan kekambuhan. Tetapi pada prakteknya banyak perbaikan di dapatkan ketika obat dipakai antara 6-12 bulan saja. Tentunya pemakaian obat ini harus sesuai petunjuk dokter dan sangat bersifat individual. Dalam artian tiap orang akan berbeda waktu pengobatannya tergantung dengan kondisi sakitnya.
B. Psikoterapi
Psikoterapi adalah menggunakan cara-cara psikologis dalam pengobatan. Terapi kognitif seperti CBT (Cognitive Behavior Therapy) adalah salah satu yang paling sering dipakai. Selain itu psikoterapi berorientasi tilikan seperti psikoanalisis pun bisa dilakukan. Trend belakangan adalah munculnya hipnoterapi yang dilakukan oleh banyak orang dengan klaim berbagai macam yang bisa dilakukannya. Secara teoritis untuk melakukan psikoterapi seorang praktisi harus memahami psikodinamika kepribadian manusia. Hal ini dipelajari dan diterapkan dalam latihan-latihan terstruktur yang biasanya didapatkan pada pendidikan dokter spesialis kedokteran jiwa dan pendidikan master untuk psikolog klinis.
Ini berarti sebenarnya tanpa mempelajari dinamika kepribadi dan berlatih secara benar, seseorang tidak bisa mengklaim dirinya mampu melakukan psikoterapi bahkan untuk psikoterapi suportif sekalipun. Namun pada kenyataannya di lapangan ada beberapa dokter non spesialis jiwa atau bahkan praktisi yang mengaku melakukan psikoterapi dalam prakteknya. Saya jadi bertanya-tanya apakah maksud psikoterapi yang dimaknai sama ?
Psikoterapi sendiri dilakukan bukan tanpa hambatan. Banyak kendala untuk melakukan hal ini. Resistensi pasien dan terapis sendiri sering menjadi kendala awal. Biasanya pasien menolak atau terapis mendapati dirinya mengalami countertransference (merasa ada perasaan tidak nyaman ketika bersama pasien diakibatkan pasien mengingatkannya pada sosok bermakna yang traumatis di masa lampau). Belum lagi masalah waktu yang harus ditepati dan disepakati. Tugas-tugas yang harus dilakukan pasien di rumah ketika tidak bersama terapis adalah hal-hal lain yang perlu mendapatkan perhatian. Intinya melakukan psikoterapi yang benar-benar itu ternyata memang tidak mudah.
C. Complementary and Alternative Therapy
Belakangan sering banyak pertanyaan dari penanya apakah ada cara-cara non-obat yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemasan. Herbal, jamu, buah, atau apapun itu yang dianggap dapat memperbaiki kondisi kecemasan pasien seringkali ditanyakan. Intinya sebagai seorang ilmuwan maka saya hanya bisa mengatakan bahwa apapun terapi yang diberikan sepanjang itu belum atau tidak merupakan hasil penelitian berbasis bukti maka dimasukkan ke dalam terapi alternatif dan tambahan dalam kedokteran.
Kita tentunya tidak bisa langsung setuju jika ternyata ada suatu terapi yang hanya berhasil pada satu atau beberapa orang lalu dikatakan terapi itu adalah terapi yang mujarab untuk semua pasien. Penelitian berbasis bukti perlu untuk membuktikan klaim itu agar menjadi suatu hasil rekomendasi yang benar. Itulah mengapa walaupun mungkin berguna bagi banyak orang beberapa terapi tidak bisa direkomendasikan karena kemungkinan lemah ketika dilakukan dalam penelitian besar.
Memang intinya pengobatan untuk gangguan kecemasan itu sangat individual. Cara tertentu untuk seseorang belum tentu bisa cocok jika dilakukan kepada orang lain. Bahkan pada penggunaan obat-obatan yang sudah dibuktikan lewat penelitian juga bisa terjadi hal-hal yang berbeda untuk tiap orang. Tidak heran begitu banyak jenis obat dan terapi untuk satu jenis gangguan kecemasan saja. Maka dari itu jika anda bertanya kepada saya apakah obat terbaik untuk gangguan cemas, maka jawaban saya semua tergantung kondisi anda. (kompas.com)
Kamis, 21 Juni 2012
4 Cara Mendeteksi Stres dari Kondisi Fisik
Tekanan hidup yang semakin berat kini, tidak jarang membuat hari-hari kita selalu diwarnai dengan kata ‘stres’. Kita menjadi mudah tersinggung, marah, gelisah dan kesal secara berlebihan. Tapi, apakah stres hanya ditandai dengan kondisi mood yang buruk saja. Tentu tidak. Para ahli mengutarakan 4 kondisi fisik yang juga bisa menjadi alat deteksi mental yang tengah tertekan. Mau tahu apa saja?
1. Mata berkedut.
Atau istilah medisnya blepharospasm, diyakini oleh para ahli merupakan salah satu akibat yang dipicu oleh stres. Untuk menghentikannya, kita bisa memejamkan mata sejenak. Sambil mata ditutup bayangkan suatu tempat yang menyenangkan. Atau, kita bisa menyejukkan mata dengan mencari pemandangan lain di luar jendela.
2. Sulit konsentrasi.
Tidak dipungkiri lagi, stres memang mampu membuat kita menjadi sulit sekali untuk fokus. Tidak hanya dalam masalah besar saja, urusan kecil dan sederhana, seperti memilih menu makan malam untuk keluarga pun bisa menguras konsentrasi. Agar kembali fokus, hentikan sejenak seluruh kegiatan dan buat pikiran kita menjadi rileks. ”Lakukan peregangan pada kaki, agar pikiran lebih cemerlang. Pancaran sinar matahari juga bisa membantu tubuh melepaskan serotonin, sehingga mood menjadi lebih bagus,” ujar Debbie Mandel, MA, pengarang buku Addicted to Stress : A Woman’s 7-Step Program to Reclaim Joy and Spontaneity in Life.
3. Kutikula terasa kasar.
“Banyak wanita yang stres lantas menggigiti kukunya untuk menghilangkan rasa gugup,” tambah Mandel. Dan ternyata kebiasaan tersebut pada akhirnya akan membuat kuku dan kutikula terlihat kasar. Dibanding menggigiti kuku, atasi rasa gugup kita dengan melakukan aktivitas lain, seperti meremas bola yang elastis.
4. Otot leher tegang.
Elizabeth Lombardo, PhD, MS, PT, psikolog sekaligus terapis fisik menyatakan, stres dapat mempengaruhi sistem muskulokeletal (tulang, persendian, otot), sehingga terjadilah kekejangan pada otot leher bagian belakang. Atasi masalah ini dengan melakukan latihan relaksasi. Cara : Tarik napas dalam sebanyak 5-10 kali. Lalu, fokuskan pikiran pada bagian leher yang tegang sampai perlahan menjadi lemas kembali. Atau, kita bisa meminta bantuan pasangan untuk memberikan pijatan lembut di area otot belakang leher. (preventionindonesia.com)
Langganan:
Postingan (Atom)